Indonesia Topnews-Phnom Penh, Kamboja – Kisah pilu menimpa seorang Warga Negara Indonesia (WNI), Rendy Ondang, yang diduga menjadi korban kejahatan jaringan mafia scammer di Kamboja. Ironisnya, peristiwa tragis ini terjadi hanya sehari setelah dirinya bersama sang istri meminta perlindungan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Berdasarkan informasi yang beredar, sehari sebelum ditemukan meninggal dunia, Rendy Ondang dan istrinya mendatangi KBRI di Phnom Penh untuk melaporkan kondisi mereka. Keduanya mengaku dipaksa bekerja di sebuah perusahaan scammer yang beroperasi di bawah naungan jaringan kasino ilegal.
Dalam laporan tersebut, Rendy dan istrinya memohon bantuan agar dapat diselamatkan dan dipulangkan ke Indonesia. Mereka menyebut kondisi tempat kerja sangat kejam dan penuh tekanan.
Namun, pihak KBRI disebut hanya meminta keduanya untuk menunggu proses informasi pemulangan di luar lingkungan KBRI. Mereka tidak mendapatkan perlindungan langsung atau tempat penampungan sementara dari pihak kedutaan.
Lebih mengejutkan, beredar kabar di kalangan pekerja migran di Kamboja bahwa terdapat dugaan praktik pertukaran informasi antara oknum dengan pihak-pihak tertentu. Disebutkan bahwa sejumlah kantor kasino yang menjadi tempat operasi scammer rutin memberikan imbalan untuk mendapatkan informasi terkait WNI yang mencoba melarikan diri atau meminta bantuan ke KBRI.
Diduga, informasi keberadaan Rendy Ondang setelah melapor bocor ke pihak jaringan mafia. Tak lama setelah keluar dari KBRI, Rendy disebut diculik oleh kelompok tersebut, tidak jauh dari area kantor kedutaan di Phnom Penh.
Keesokan harinya, kabar duka datang. Rendy Ondang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, dengan luka di bagian leher yang diduga akibat jeratan tali. Peristiwa ini memicu kecurigaan kuat bahwa ia menjadi korban pembunuhan.
Sementara itu, jenazah Rendy Ondang dan istrinya akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Namun hingga kini, kasus tersebut disebut-sebut belum menemui titik terang dan terkesan “dipeti-eskan”.
Peristiwa ini memicu kemarahan dan keprihatinan publik, khususnya terkait perlindungan WNI di luar negeri, serta dugaan adanya kebocoran informasi yang berujung pada hilangnya nyawa.
Masyarakat pun mendesak adanya investigasi menyeluruh dan transparan, baik dari pemerintah Indonesia maupun otoritas terkait di Kamboja, untuk mengungkap kebenaran di balik tragedi ini dan memastikan keadilan bagi korban.
(Fendi)
