Indonesia Topnews-Medan – Sebuah warung tua yang berada di kawasan Sambu, pusat Kota Medan, hingga kini masih bertahan dan menjadi tempat berkumpul berbagai kalangan, khususnya para pedagang obat keliling dari seluruh Indonesia. Warung tersebut pertama kali dibuka oleh almarhum Haji Ahmad pada tahun 1960.
Kini, usaha warung legendaris itu diteruskan oleh anaknya yang akrab disapa Alhajar alias Panjang. Meski zaman terus berubah, suasana kekeluargaan di warung tersebut masih tetap terasa seperti dahulu.

Menurut sejumlah pelanggan lama, pada era tahun 1960-an warung itu dikenal sebagai markas kaum marhaen, tempat berkumpul wartawan, hingga para pedagang obat keliling. Berbagai cerita perjuangan hidup dan pengalaman berdagang sering dibahas di tempat tersebut.
Saat ini, warung itu masih ramai dikunjungi pedagang obat keliling yang datang dari berbagai daerah di Nusantara, mulai dari Maluku, Sulawesi, Sumatra, Aceh hingga Papua. Walaupun berasal dari daerah yang berjauhan, mereka tetap kompak dan menjalin persaudaraan erat.
Para pedagang obat tersebut juga membentuk sebuah grup silaturahmi bernama “Dunia Mesa”. Grup itu bertujuan untuk mempererat hubungan antaranggota serta saling membantu jika ada rekan yang mengalami kesusahan atau musibah.

Apabila ada anggota yang terkena musibah, ketua grup, Syaril Amai Alung, langsung membuat daftar sumbangan sukarela untuk membantu anggota yang membutuhkan. Kekompakan dan rasa persaudaraan itu menjadi bukti kuatnya solidaritas para pedagang obat keliling di Indonesia.
Sementara itu, Pak Panjang sebagai penerus warung mengaku bersyukur tempat usaha peninggalan orang tuanya masih menjadi lokasi berkumpul dan mempererat silaturahmi masyarakat dari berbagai daerah.
Reporter: Danil

