Indonesia Topnews-BATAM — Pasar kaget CGC yang berada di Jalan Tanjung Ucang, tepat di depan Masjid Sultan, Batam, mulai mengalami penurunan jumlah pengunjung. Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang yang berjualan di lokasi mengeluhkan pendapatan yang semakin menurun.
Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana pasar kaget yang sebelumnya cukup ramai kini terlihat lebih sepi. Sejumlah pedagang mengaku mulai merasakan berkurangnya pembeli, terutama dalam beberapa waktu terakhir.
Selain persoalan sepinya pengunjung, pedagang dan pengunjung juga mengeluhkan kondisi surau yang berada di sekitar lokasi pasar. Fasilitas tempat ibadah tersebut disebut tidak memiliki ketersediaan air yang memadai, sehingga menyulitkan pedagang maupun pengunjung yang hendak melaksanakan salat.
Para pedagang berharap pengelola maupun pihak terkait dapat memperhatikan fasilitas dasar di kawasan pasar, terutama fasilitas untuk beribadah. Menurut mereka, keberadaan fasilitas yang layak sangat penting karena aktivitas pasar berlangsung hingga malam hari.
Di sisi lain, pedagang juga menyoroti biaya lapak yang harus tetap dibayarkan meskipun dagangan tidak banyak terjual. Untuk satu lapak dengan satu tenda, pedagang dikenakan biaya sebesar Rp20 ribu.
Salah seorang pedagang, Riski Adiya, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut cukup berat bagi pedagang kecil ketika jumlah pembeli menurun.
“Tadi malam cuma dapat Rp135 ribu,” ujar Riski saat menceritakan hasil penjualannya.
Menurut Riski, pendapatan tersebut belum termasuk berbagai pengeluaran yang harus ditanggung pedagang. Setelah membayar biaya lapak sebesar Rp20 ribu, pedagang masih harus mengeluarkan uang untuk makan, membeli rokok, serta kebutuhan lainnya.
“Bayar lapak Rp20 ribu, makan, beli rokok dan lain-lain, habis sudah pendapatan,” katanya.
Meski demikian, Riski mengaku tetap berusaha bertahan dan tidak ingin menyerah dengan keadaan. Baginya, berdagang merupakan usaha yang harus dijalani dengan sabar, meskipun hasil yang diperoleh terkadang tidak sesuai harapan.
“Bagaimanapun juga harus sabar, namanya juga usaha,” kata Riski.
Sejumlah pedagang lainnya juga berharap kondisi pasar kaget tersebut kembali ramai sehingga usaha mereka dapat terus berjalan. Mereka berharap pengelola dapat bersama-sama mencari solusi untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, memperbaiki fasilitas surau, serta mempertimbangkan kondisi pedagang yang saat ini menghadapi penurunan jumlah pembeli.
Pedagang menilai, pasar kaget bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat sekitar. Karena itu, kenyamanan, kebersihan, fasilitas ibadah, serta pengelolaan lapak dinilai perlu mendapat perhatian agar pedagang dan pengunjung sama-sama merasa nyaman.
( SP )




