Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih Terbengkalai, Warisan Kerajaan Islam Pertama di Nusantara Terancam Terlupakan.

Indonesia Topnews-Aceh Utara — Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, pendiri Kerajaan Samudra Pasai sekaligus raja Islam pertama di Nusantara, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Situs bersejarah yang terletak di Desa Beurigen, Kecamatan Samudra Pasai, Kabupaten Aceh Utara ini dinilai kurang terawat dan banyak fasilitas pendukung yang terbengkalai.

Sultan Al-Malik Ash-Shalih wafat pada tahun 1292 M dan dimakamkan di kawasan tersebut. Makam beliau menjadi bukti awal masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Selama berabad-abad, situs ini dikenal sebagai pusat ziarah dan studi sejarah Islam, yang dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri.

Letak pemakaman

Namun, kondisi terkini situs tersebut menimbulkan keprihatinan banyak pihak.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah fasilitas umum seperti jalan akses, papan informasi sejarah, tempat istirahat pengunjung, hingga area parkir terlihat rusak dan kurang terawat. Beberapa bangunan penunjang tampak kusam, cat mengelupas, serta minim perawatan rutin.

Salah seorang narasumber setempat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa kondisi ini sudah berlangsung cukup lama.

“Sudah lama fasilitas di sini tidak diperbaiki. Banyak yang rusak, tidak nyaman lagi untuk pengunjung. Padahal, setiap bulan masih banyak orang datang untuk ziarah dan belajar sejarah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perhatian dari pihak terkait masih dirasa kurang maksimal.

“Situs ini sangat bersejarah bagi umat Islam di Nusantara. Dari sinilah awal perkembangan Islam. Tapi sayangnya, perawatannya belum sebanding dengan nilai sejarahnya,” tambahnya.

komplek Pemakaman

Menurut keterangan warga sekitar, jumlah pengunjung sebenarnya masih cukup tinggi, terutama pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan, hari besar Islam, dan libur nasional. Para peziarah datang dari berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Namun, minimnya fasilitas yang memadai membuat kenyamanan pengunjung berkurang. Kurangnya tempat berteduh, toilet yang tidak layak, serta keterbatasan informasi sejarah menjadi keluhan utama.

Seorang pengunjung asal Sumatera Barat, Ahmad (45), mengaku kecewa dengan kondisi situs tersebut.

“Saya datang jauh-jauh untuk berziarah dan belajar sejarah. Tapi melihat kondisinya seperti ini, rasanya sedih. Situs sepenting ini seharusnya dirawat lebih baik,” katanya.

Padahal, Kerajaan Samudra Pasai memiliki peran besar dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Kerajaan ini dikenal sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan penyebaran Islam sejak abad ke-13. Dari wilayah inilah, ajaran Islam kemudian menyebar ke berbagai penjuru Nusantara.

Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih menjadi simbol kejayaan Islam masa lalu, sekaligus bukti kuat bahwa Aceh merupakan “Serambi Mekkah” yang memiliki peran strategis dalam sejarah keislaman.

Para tokoh masyarakat dan pemerhati sejarah berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dapat lebih serius memperhatikan kondisi situs tersebut. Mereka menilai bahwa pelestarian situs ini bukan hanya tanggung jawab daerah, tetapi juga tanggung jawab nasional.

“Ini bukan sekadar makam biasa. Ini adalah saksi sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Kalau tidak dijaga, generasi mendatang bisa kehilangan jejak sejarahnya,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Selain sebagai tempat ziarah, situs ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan edukasi sejarah. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan ini dapat menjadi pusat pembelajaran Islam Nusantara sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Masyarakat berharap adanya revitalisasi menyeluruh, mulai dari perbaikan infrastruktur, penataan kawasan, penambahan fasilitas pengunjung, hingga penyediaan pusat informasi sejarah yang representatif.

“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait. Jangan sampai warisan Islam ini hanya tinggal cerita,” tutup narasumber.

Dengan segala nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang dimilikinya, Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih seharusnya menjadi kebanggaan umat Islam Nusantara. Upaya pelestarian dan perawatan yang maksimal sangat dibutuhkan agar situs ini tetap hidup sebagai sumber inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Reforter : Alfian Top

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *