Indonesia Topnews-PARIAMAN — Garis-garis wajahnya menyimpan ribuan cerita tentang omamak laut dalam dan jalanan lintas Sumatra. Di usianya yang kini telah menginjak 75 tahun, semangat hidup pria kelahiran tahun 1951 ini seolah tidak pernah mengendur.
Masyarakat di sekitar Nareh, Pariaman, Sumatra Barat, mengenalnya dengan panggilan akrab: Jo Kunih.
Setiap hari, Jo Kunih masih aktif melakoni profesinya sebagai pedagang ikan keliling di sekitar kampung halamannya di Nareh. Mengayuh atau berjalan menjajakan hasil laut ke rumah-rumah warga, ia membawa sesuatu yang berbeda dari pedagang kebanyakan—sebuah senyuman hangat dan dendang lagu Minang lama yang keluar fasih dari bibirnya.
Pengelana Masa Muda: Dari Kota Salak hingga Laut Sibolga
Sebelum menetap kembali di Nareh, masa muda Jo Kunih dipenuhi dengan jiwa petualang. Ia adalah seorang pengelana yang tangguh. Waktu mudanya sempat dihabiskan di daerah Padang Sidempuan, Sumatra Utara, kota yang masyhur dengan julukan Kota Salak.
Tidak berhenti di sana, langkah kakinya kemudian membawa Jo Kunih ke pesisir Tapanuli Tengah, tepatnya di Kota Sibolga. Di sana, ia menguji nyali sebagai seorang nelayan tulen. Menantang malam, Jo Kunih terbiasa berangkat ke tengah laut saat matahari tenggelam dan baru kembali ke daratan ketika fajar subuh menyingsing, membawa ikan-ikan segar hasil tangkapan.
Pengalaman bertahun-tahun sebagai nelayan itulah yang membentuk fisiknya tetap bugar hingga hari ini, memungkinkannya untuk tetap kuat berdagang ikan keliling di usia senja.
Jiwa Seni yang Tak Pernah Padam
Namun, di balik kerasnya kehidupan sebagai pelaut dan pedagang, Jo Kunih menyimpan bakat seni yang luar biasa. Hobinya adalah menyanyi. Hingga saat ini, ia masih sangat hafal dan piawai membawakan lagu-lagu Minang klasik (lama) dengan cengkok yang khas.
Orang-orang yang mendengarnya mengakui bahwa Jo Kunih memiliki kualitas suara yang cukup bagus dan berkarakter. Sayangnya, garis tangan belum membawanya ke panggung profesional. Karena keterbatasan modal dan tidak adanya pihak penopang (support system) yang mendukungnya untuk masuk ke industri rekaman, bakat emas Jo Kunih tersembunyi di balik riuh rendahnya pasar ikan.
Meski mimpinya menjadi penyanyi rekaman tidak terwujud, Jo Kunih tidak pernah berkecil hati. Baginya, menyanyi bukanlah soal panggung megah atau kepingan kaset, melainkan cara jiwanya mengekspresikan kebahagiaan dan merawat ingatan masa lalu.
Kini, di usia 75 tahun, nyanyian itu tetap terdengar di sepanjang jalanan Nareh Pariaman, berbaur dengan aroma segar ikan-ikan yang ia jajakan. Jo Kunih adalah bukti nyata bahwa usia boleh menua, tetapi hobi, semangat, dan cinta pada seni tidak akan pernah menemui kata pensiun.
Reporter: Aziwir Milala



