Dari Perantauan hingga Menjadi Guru, Kisah Inspiratif Putra Bulukumba di Batam

Indonesia Topnews-BATAM, KEPRI — Perjalanan hidup seorang guru SMP Negeri Barelang, Kota Batam, menjadi kisah inspiratif tentang perjuangan, keyakinan, dan kegigihan mengubah nasib di tanah rantau.

Pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu datang ke Batam sekitar tahun 2000 dengan membawa bekal pendidikan sarjana (S1) dan tekad kuat untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, perjalanan tersebut tidak semudah yang dibayangkan.

Read More

Setibanya di Batam, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Ia pernah menjadi kuli bangunan hingga tukang ojek demi memenuhi kebutuhan hidup. Dalam masa-masa sulit tersebut, ia bahkan mengaku pernah mengalami kondisi hanya bisa bertahan tanpa makan selama satu hari.

“Namanya juga merantau, semua pekerjaan saya jalani. Yang penting halal dan bisa bertahan hidup,” kenangnya.

Selama beberapa bulan menjalani pekerjaan serabutan, keyakinan dan semangatnya untuk mengubah nasib tidak pernah surut. Berbekal pendidikan yang dimiliki, kesempatan akhirnya datang. Ia mendapat pekerjaan sebagai guru di Pulau Buluh, salah satu wilayah pesisir Kota Batam.

Dari Pulau Buluh pula perjalanan hidupnya semakin berubah. Selain menemukan jalan pengabdian sebagai seorang pendidik, ia juga menemukan jodohnya, Fitri, perempuan asli Melayu Pulau Buluh.

Keduanya kemudian membangun rumah tangga dan kini telah dikaruniai tiga orang putra. Putra sulung mereka saat ini sudah duduk di kelas III SMP.

Bagi sang guru, perjalanan dari Bulukumba menuju Batam bukan sekadar kisah merantau. Ada perjuangan panjang, jatuh bangun, serta keyakinan bahwa kehidupan dapat berubah selama seseorang mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.

Dari Guru hingga Kisah Warung Kopi Fitri

Di tengah kesibukan sang suami menjalankan tugas sebagai guru, Fitri juga turut membantu perekonomian keluarga. Ia kini membuka Warung Kopi Fitri di kawasan Pelita, Kota Batam, di samping Bank BTN.

Setiap pagi hingga sore hari, warung tersebut ramai dikunjungi pelanggan, khususnya para pegawai kantor di sekitar kawasan Pelita.

Warung Kopi Fitri tidak hanya menyediakan kopi dan minuman, tetapi juga berbagai menu makanan yang cukup beragam. Di antaranya ayam penyet, nasi goreng, pecel lele, serta sejumlah menu lainnya yang menjadi pilihan pelanggan.

Suasana warung yang sederhana dan pelayanan yang ramah membuat tempat tersebut menjadi salah satu pilihan bagi para pekerja untuk sarapan, makan siang, maupun sekadar menikmati kopi dan berbincang santai.

Kisah keluarga ini menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu datang secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pekerjaan serabutan, menghadapi keterbatasan, hingga akhirnya menemukan jalan kehidupan yang lebih baik.

Dari seorang perantau asal Bulukumba yang pernah menjadi kuli bangunan dan tukang ojek, kini ia menjalani profesi sebagai guru. Sementara sang istri ikut menopang keluarga melalui usaha Warung Kopi Fitri.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keyakinan, kerja keras, pendidikan, dan keberanian untuk merantau dapat menjadi modal penting dalam mengubah kehidupan.

Reporter: Dani Tanjung

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *