Di Tengah Gemerlap Batam, Keluarga Pemulung Bertahan di Gubuk Terpal

Indonesia Topnews-BATAM — Di tengah pesatnya pembangunan Kota Batam, potret kemiskinan masih terlihat nyata. Sebuah keluarga pemulung terpaksa bertahan hidup di sebuah gubuk darurat berbahan terpal dan kayu di Jalan Yos Sudarso, kawasan Flyover Laluan Madani, tepat di seberang Kantor DJP Kepri.

Temuan pada Sabtu (5/9/2026) menunjukkan gubuk berukuran seadanya itu dihuni pasangan suami istri, WY dan BR, bersama dua anak mereka yang masih kecil.

Read More

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga tersebut mengandalkan penghasilan dari memulung botol bekas, kardus dan barang-barang yang masih memiliki nilai jual.

WY mengaku sebelumnya bekerja sebagai sopir ekspedisi antarkota dengan rute Sumatra-Jawa. Namun, kondisi kesehatan yang kerap kambuh membuatnya tak lagi mampu mengemudikan truk.

Keterbatasan ekonomi dan sulitnya mendapatkan biaya pengobatan akhirnya membuat keluarga tersebut memilih bertahan hidup dengan memulung.

Saat ditemui, BR bersama kedua anaknya baru pulang setelah seharian mencari barang bekas. Raut lelah terlihat jelas, sementara tempat tinggal mereka hanya berupa gubuk yang dibuat dari terpal, spanduk bekas dan kayu bulat.

“Kami bertahan hidup dari mulung botol bekas, kardus. Mau berobat juga susah karena tidak ada biaya,” ujar BR dengan mata berkaca-kaca.

Ironisnya, gubuk tersebut berada di tengah kawasan perkotaan yang terus berkembang. Namun, menurut pengakuan keluarga, hingga kini belum ada bantuan yang mereka terima dari pihak terkait.

Kondisi ini menjadi sorotan kemanusiaan sekaligus mengundang perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Sosial diharapkan segera turun tangan, memastikan kondisi keluarga tersebut dan memberikan akses bantuan sosial, kesehatan serta tempat tinggal yang lebih layak.

Di balik gemerlap pembangunan Batam, keluarga ini masih berjuang mempertahankan hidup dari tumpukan barang bekas.

Kini, pertanyaannya: masihkah mereka harus bertahan di bawah gubuk terpal di tengah jantung kota?

Reporter Dani Tanjung

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *