Indonesia Topnews-Informasi yang beredar di masyarakat, persoalan bermula dari sebuah gudang yang berada tepat di samping Masjid Al Muttaqin. Gudang tersebut diduga menghidupkan musik dengan volume keras, bahkan saat azan sedang berkumandang.
Warga dan jamaah masjid mengaku sudah beberapa kali menegur dengan baik agar volume musik dikecilkan sementara sebagai bentuk saling menghormati waktu ibadah.
Namun, teguran tersebut diduga tidak mendapat respon yang baik. Hingga akhirnya, sejumlah masyarakat mendatangi gudang tersebut untuk meminta kejelasan.
Situasi yang awalnya ingin dimediasi justru memanas. Pihak pemilik gudang disebut tidak terima dengan kedatangan warga, sehingga terjadilah keributan antara warga/jamaah dengan pihak gudang.
Padahal, persoalannya sebenarnya sederhana.
Ketika azan berkumandang, alangkah baiknya suara musik dikecilkan sejenak. Itu bukan soal melarang musik, tapi soal adab dan saling menghormati antar sesama. Apalagi posisi gudang berada tepat di samping rumah ibadah.
Di sisi lain, penyelesaian persoalan di tengah masyarakat tentu akan jauh lebih baik jika dilakukan dengan cara musyawarah, duduk bersama, melibatkan kepala lingkungan, BKM masjid, dan pemilik gudang. Bukan dengan adu emosi dan keributan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, pentingnya toleransi dan komunikasi yang baik dalam hidup bertetangga.
Bagaimana menurut warga Tanjung Morawa? Jika kejadian seperti ini terjadi di lingkungan sekitar masjid, menurut kalian bagaimana solusi terbaiknya agar tetap rukun?
Mari kita jaga kerukunan bersama.
#TanjungMorawa #DeliSerdang #MasjidAlMuttaqin #SimpangPermina #KabarDeliSerdang
“Semoga kedua belah pihak bisa bermusyawarah dengan kepala dingin dan menemukan jalan terbaik. Kita semua saudara.”
( Sainun ).




