Indonesia Topnews-BATAM — Di tengah hiruk-pikuk Pasar Seken Jodoh yang tak pernah sepi, sosok Pak Kumis menjadi salah satu pedagang yang memiliki cerita panjang dan penuh perjuangan.
Pria berusia 69 tahun tersebut sudah sekitar 40 tahun berdagang batu cincin akik. Berasal dari Batusangkar, kawasan Pagaruyung, Sumatera Barat, Pak Kumis memilih Batam sebagai tempat mencari penghidupan.
Ia mengenang, dirinya datang dari kampung dan mulai menetap serta berdagang di Batam sejak sekitar tahun 2000. Hingga kini, perdagangan batu cincin akik tetap menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk bertahan hidup.
“Dari kampung saya datang ke sini, berdagang terus untuk bertahan hidup,” tutur Pak Kumis.
Bagi Pak Kumis, berdagang bukan sekadar mencari keuntungan. Pasar Seken Jodoh telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Puluhan tahun berada di tengah aktivitas perdagangan membuatnya menyaksikan berbagai perubahan zaman dan perkembangan Batam.
Pasar Seken Jodoh, Surganya Barang Bekas Berkualitas
Pasar Seken Jodoh sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan perdagangan barang bekas di Batam. Berbagai macam barang dapat ditemukan di kawasan ini, mulai dari koper, tas, sepatu, pakaian, jaket, jam tangan, telepon seluler, laptop dan berbagai barang lainnya.
Sebagian barang yang diperjualbelikan merupakan barang ex luar negeri, sehingga kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan masyarakat yang ingin mencari barang dengan harga yang lebih terjangkau.
Menariknya, aktivitas perdagangan di Pasar Seken Jodoh tidak hanya berlangsung pada siang hari. Keramaian bahkan masih terlihat hingga malam hari, bahkan sekitar pukul 00.00 WIB.
Suasana tersebut menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Pedagang dan pembeli terus berinteraksi, sementara berbagai lapak menawarkan beragam barang yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pak Kumis dan Pasar yang Menjadi Bagian Hidupnya
Di tengah keramaian itu, Pak Kumis tetap bertahan dengan batu-batu akik dagangannya.
Usianya yang telah mencapai 69 tahun tidak membuat semangatnya untuk berdagang surut. Selama masih mampu, ia memilih tetap berada di pasar dan menjalani pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya.
Kisah Pak Kumis menjadi gambaran bahwa di balik ramainya sebuah pasar, terdapat cerita para pedagang kecil yang terus berjuang mempertahankan kehidupan.
Pasar Seken Jodoh bukan hanya tempat transaksi jual beli. Bagi pedagang seperti Pak Kumis, tempat ini telah menjadi ruang perjuangan, tempat mencari nafkah, sekaligus saksi perjalanan hidup selama bertahun-tahun di Batam.
Reporter: SP/Idil Putra




