Indonesia Topnews-BATAM, KEPRI — Kondisi Pasar Malam CGC yang berada di Jalan Tanjung Ucang, tepat di depan Masjid Sultan, Batam, mulai dikeluhkan sejumlah pedagang. Meski para pedagang masih terlihat membuka lapak, jumlah pengunjung yang datang untuk berbelanja disebut semakin sepi.
Salah seorang pedagang pakaian bekas (seken), Adeng, mengaku hanya memperoleh hasil penjualan sekitar Rp30 ribu pada malam ini. Dari jumlah tersebut, ia harus mengeluarkan biaya sewa lapak sebesar Rp20 ribu, belum lagi untuk kebutuhan minum dan makan.
“Malam ini penjualan saya cuma laku Rp30 ribu. Bayar lapak Rp20 ribu, bayar kopi, habis sudah penjualan malam ini,” keluh Adeng.
Menurutnya, persoalan bukan karena tidak ada pedagang. Pedagang masih cukup ramai menggelar dagangan, namun yang menjadi persoalan adalah minimnya pengunjung.
“Pedagang ramai, tapi pengunjung tidak ada. Sepi. Kalau lama-lama begini, kami bisa tutup,” ujar salah seorang pedagang yang sudah cukup lama berjualan di lokasi tersebut.
Para pedagang mengaku berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka membutuhkan tempat berjualan untuk mencari nafkah, tetapi di sisi lain biaya sewa lapak tetap harus dibayarkan setiap bulan, terlepas dari apakah dagangan mereka laku atau tidak.
Pedagang Mulai Meninggalkan Pasar
Kondisi tersebut disebut mulai berdampak terhadap keberadaan pedagang di kawasan pasar malam CGC. Sejumlah pedagang secara perlahan mulai meninggalkan lokasi karena merasa biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil penjualan.
Bahkan, pasar yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu lokasi masyarakat mencari kebutuhan sehari-hari, termasuk sayur-mayur, disebut mulai kehilangan pedagang.
Keluhan lainnya juga diarahkan kepada mekanisme penagihan sewa lapak. Pedagang mengaku tetap ditagih sesuai jumlah lapak yang digunakan tanpa mempertimbangkan kondisi penjualan.
Untuk satu tenda, pedagang dikenakan biaya Rp20 ribu. Sementara apabila menggunakan dua tenda, biaya yang harus dibayar menjadi Rp40 ribu.
Pedagang berharap adanya kebijakan yang lebih mempertimbangkan kondisi mereka, terutama ketika suasana pasar sedang sepi dan hasil jualan sangat minim.
“Kalau jualan tidak laku, bagaimana kami mau bayar penuh? Kami juga mencari makan dari sini,” keluh pedagang lainnya.
Penagihan Dinilai Kurang Bersahabat
Sejumlah pedagang juga menyoroti cara penagihan uang sewa lapak. Mereka menyebut petugas penagih datang menggunakan sepeda motor dan tidak turun dari kendaraannya saat meminta pembayaran.
Menurut pedagang, cara tersebut menimbulkan kesan kurang menghargai para penyewa lapak yang setiap hari berusaha mencari penghasilan di tengah kondisi pasar yang sepi.
Para pedagang berharap pengelola Pasar Malam CGC dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan. Mereka meminta agar pengelola tidak hanya memperhatikan pembayaran sewa lapak, tetapi juga memikirkan bagaimana agar jumlah pengunjung kembali meningkat.
Pedagang menilai, jika kondisi seperti ini terus berlangsung tanpa adanya solusi, bukan tidak mungkin semakin banyak pedagang memilih meninggalkan Pasar Malam CGC.
Pasar bukan hanya membutuhkan pedagang, tetapi juga membutuhkan pengunjung. Tanpa pembeli, pedagang akan kesulitan bertahan. Jika pedagang satu per satu pergi, maka aktivitas pasar pun dikhawatirkan semakin lama semakin redup.
Reporter: SP




