Ada perjalanan yang bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Ia adalah perjalanan hati
menyusuri jejak para kekasih Allah,
mengenang langkah para guru,
dan menghidupkan kembali kisah perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Rumah Suluk Syeikh Abdul Wahab Rokan, Rantau Binuang Sakti, berkumpul para pencinta ilmu dan jalan ruhani dalam suasana penuh khidmat, memperingati Milad ke-218 Syeikh Abdul Wahab Rokan.
Hadir Tuan Guru Babussalam Syeikh Dr. H. Zikmal Fuad, MA, bersama para ulama, mursyidin dan jamaah Persulukan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
Turut hadir Wakil Bupati Rokan Hulu H. Saparudin Poti, S.H., Ketua LAM Riau–Rokan Hulu KH. H. Zulyadaini, Pimpinan Pondok Darul Furqon Kota Tengah, serta para tokoh dan jamaah yang datang untuk menyambung silaturahmi dan mengenang perjuangan seorang ulama besar.
Dalam tausiyahnya, Tuan Guru kembali membuka lembaran sejarah perjuangan Syeikh Abdul Wahab Rokan. Tentang seorang guru yang mengajarkan bahwa jalan menuju Allah bukanlah jalan yang dihiasi kemegahan, melainkan jalan yang ditempuh dengan ilmu, adab, kesabaran, keikhlasan dan pengabdian.
Jejak beliau bukan hanya tertinggal pada tempat-tempat yang pernah disinggahinya.
Jejak itu hidup di dalam hati para murid.
Hidup dalam majelis ilmu.
Hidup dalam lantunan zikir.
Hidup dalam tradisi suluk.
Dan hidup dalam setiap langkah orang-orang yang berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.
Sebab seorang wali tidak benar-benar pergi ketika jasadnya telah kembali kepada tanah.
Selama ilmu yang diajarkannya masih diamalkan,
selama zikir masih dilantunkan,
selama adab masih dijaga,
dan selama jalan yang dirintisnya masih ditempuh
maka cahaya perjuangannya tetap menyala.
Dari Babussalam Besilam menuju Rantau Binuang Sakti, silaturahmi ini seakan mempertemukan kembali mata rantai perjuangan yang bersambung melalui ilmu, guru dan murid.
Bukan untuk membesarkan nama manusia,
tetapi untuk mengingat kembali kebesaran Allah SWT
yang menghadirkan para guru sebagai wasilah untuk mengenalkan manusia kepada-Nya.
Semoga peringatan Milad ke-218 ini tidak berhenti sebagai kenangan sejarah, tetapi menjadi **peringatan bagi jiwa agar kita kembali bertanya kepada diri:
Sudahkah ilmu melahirkan adab?
Sudahkah zikir melembutkan hati?
Sudahkah jalan suluk mendekatkan kita kepada Allah?
Karena pada akhirnya, perjalanan seorang salik bukanlah tentang seberapa jauh ia melangkah—
melainkan tentang seberapa dekat hatinya kepada Allah SWT.
Merawat jejak para guru,
menyambung silaturahmi,
menghidupkan ilmu dan adab,
serta meneruskan jalan menuju Allah SWT.
FB VISIT besilam babussalam
( Alfian top ).




