Indonesia Topnews-YOGYAKARTA – Suasana sore di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (5/6) lalu terasa berbeda. Jika biasanya hiruk-pikuk kendaraan di sana hanya menjadi deru mesin yang monoton, sore itu, jalanan berubah menjadi panggung protes yang unik sekaligus menggelitik.
Bukan kepalan tangan ke udara atau orasi membakar semangat yang mendominasi, melainkan dentuman klakson yang bersahut-sahutan. Kelompok yang menamakan diri “Suara Ibu Jogjakarta” hadir dengan tajuk aksi yang cukup menohok nurani: “Nyerah Jadi WNI”.
Strategi Klakson sebagai “Kotak Suara
Alih-alih menutup jalan dengan barikade kaku, massa aksi justru merangkul para pengguna jalan. Dua poster berukuran jumbo dibentangkan tepat menghadap arus kendaraan. Tulisan di atasnya sederhana namun tajam: Bunyikan Klakson kalau Capek Jadi WNI.
Strategi ini terbukti jitu. Tanpa perlu paksaan, para pengendara yang melintas tampak antusias merespons. Selama dua jam penuh, Bundaran UGM seolah sedang mengadakan “konser” protes. Total 526 suara klakson mobil dan motor saling bersahutan, menciptakan polusi suara yang bagi mereka adalah simbol kesamaan keresahan.
Di tepi jalan, aksi ini jauh dari kesan sangar. Suasana lebih mirip ruang publik terbuka; ada posko “kotak sambat” tempat warga mencurahkan unek-unek, lapak baca buku yang santai, hingga pojok mewarnai bagi anak-anak yang diajak orang tuanya.
Akar Kekecewaan: Dari Korupsi hingga Ekonomi
Di balik kreativitas aksi tersebut, tersimpan kegelisahan yang mendalam. Marsinah, Humas Aksi, mengungkapkan bahwa aksi ini adalah bentuk mosi tidak percaya yang akumulatif.
“Kami tidak lagi bisa diam,” ujar Marsinah di sela-sela aksi. Ia membeberkan deretan isu yang membuat “Suara Ibu” gerah. Mulai dari kekecewaan atas skandal korupsi yang menyeret pimpinan Badan Gizi Nasional terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kondisi ekonomi nasional yang kian mencekik.
Nilai tukar rupiah yang terus merosot terhadap dolar AS menjadi hantu nyata bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di saat yang sama, mereka menyoroti kontras gaya hidup para pejabat yang dianggap abai, yakni gencar melakukan kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri di tengah kesulitan ekonomi rakyat. Tak luput, mereka juga menyoroti kemerosotan kualitas demokrasi dan perlindungan hak sipil yang dirasa kian terkikis.
Tuntutan di Balik “Kotak Sambat”
Massa aksi tak sekadar meluapkan keresahan, mereka membawa tuntutan konkret. Kelompok ini mendesak pemerintah untuk melakukan langkah radikal: menstabilkan ekonomi dengan mengalihkan anggaran dari Koperasi Desa Merah Putih serta Danantara untuk dialokasikan langsung bagi subsidi pangan dan logistik rakyat.
Tak hanya itu, mereka menuntut evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut mereka, program tersebut lebih banyak memboroskan anggaran negara daripada memberikan dampak nyata yang berkeadilan.
Aksi sore itu akhirnya menjadi potret nyata bagaimana masyarakat mulai mencari cara baru dalam menyuarakan kritik. Bagi warga yang melintas, klakson yang mereka bunyikan mungkin hanya sekadar aksi spontanitas. Namun bagi Suara Ibu Jogjakarta, itu adalah bentuk nyata dari sebuah rasa lelah yang kolektif—sebuah pesan yang dikirimkan langsung dari jalanan, berharap sampai ke telinga para pengambil kebijakan.
Penulis mustaringumi.











